Rabu, 24 Oktober 2012

Mualem

FOTO]: Mualem Tinjau Lokasi Pabrik Padi Modern di Seuneuddon


SEUNEUDDON - Hari ini, Rabu, 24 Oktober 2012 Wagub Muzakir Manaf tinjau tiga tempat di Aceh Utara, pertama, sekitar pukul 09.00 Wagub menuju ke Gampông Manè Kawan Kecamatan Seunuddon, guna melihat lokasi tanah persiapan akan dibangun pabrik padi modern oleh konglomerat nasional Hashim S Djojohadikusumo.
Sebagaimana diketahui bahwa sebelumnya pada tanggal 26 September 2012 telah dilakukan penandatanganan perjanjian kerjasama antara Pemerintah Aceh dengan PT Arsari Pratama Group tentang pembangunan kilang padi modern di Seunuddon, Aceh Utara.
Wagub melihat-lihat langsung lokasi tanah sambil berbincang-bincang dengan Ketua DPRK Aceh Utara, Jamaluddin Jalil yang sering disapa Mualem Jamal, juga didampingi oleh Camat Seunudon, M. Dahlan. Wagub juga berbincang-bincang dengan beberapa warga setempat yang tanah atau rumahnya masuk dalam lokasi yang harus dibebaskan untuk areal pabrik padi seluas sepuluh hektare. Berikut foto-foto kunjungan Mualem:

Senin, 22 Oktober 2012

Sinkronisasi UUPA Dan UoU Helsinki

Malik Mahmud: Sinkronisasi UUPA dan MoU Helsinki Membuat Aceh Lebih Sejahtera

Written By Administrator on Rabu, 15 Agustus 2012 | 10:52


BANDA ACEH - Pemerintah Aceh hari ini menggelar jumpa pers peringatan tujuh tahun penandatanganan MoU Helsinki, di kediaman Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud Alhaytar, Geucheu Kayee Jato, Banda Aceh, Selasa 14 Agustus 2012.

Acara yang dilangsungkan sekitar pukul 11.55 WIB tadi diikuti Malik Mahmud, Sekretaris Daerah Aceh T Setia Budi, dan unsur panitia seperti Hanif Asmara dan Sayed Abdul Aziz.

Malik Mahmud mengharapkan dengan berjalannya perdamaian hingga usia tujuh tahun ini mampu merampungkan semua butir-butir UUPA dari MoU Helsinki. "Karena MoU Helsinki merupakan fundamen awal perdamaian antara RI dan GAM," kata Malik.

Malik mengatakan kalau UUPA bisa disinkronkan dengan MoU Helsinki, ia bisa menjamin tidak ada lagi masalah ke depan antara RI-GAM (Jakarta-Aceh).

Malik juga berharap semua masyarakat Aceh memahami dan mengetahui sebab musabab konflik terjadi di Aceh. Karena, kata dia, dengan memahaminya orang Aceh bisa selalu menjaga marwah, kepentingan, dan hal lainnya yang ada di Aceh.

"Termasuk UUPA yang belum semuanya beres dan akan dibereskan dalam waktu dua tahun ini," ujar dia.[]

Uroe Raya Haji







INDAH ALAM PESONA

Sejuta Pesona Dari Banda …..
Minggu, 21 Oktober 2012 11:43 WIB
Kawanan lumba-lumba tiba-tiba muncul di samping kapal, seakan hendak menyambut, saat kapal mendekati Kepulauan Banda, Maluku. Gunung Api yang menjulang setinggi 670 meter di atas permukaan laut dengan sepuluh pulau kecil di sekitarnya yang masuk dalam Kepulauan Banda pun kian jelas terlihat. Panorama alam Banda melenyapkan semua lelah yang membebani tubuh setelah menempuh perjalanan laut tujuh jam dari Ambon, ibu kota Maluku. Pulau-pulau tertutup vegetasi yang lebat dengan pasir putih di pesisirnya dan nyiur kelapa yang menaunginya.
Di perairan di antara pulau-pulau tersebut, aktivitas nelayan menangkap ikan dengan perahu tradisional kian menambah pesona panorama yang disuguhkan.
Di bawah laut, pesona tak kalah indah. Lautan biru yang jernih memungkinkan terumbu karang dengan ikan-ikan karang aneka warna yang berenang di antaranya bisa terlihat jelas dari permukaan atau dengan snorkeling.
Dengan menyelam, keragaman hayati bawah laut bisa lebih terlihat. Ada sedikitnya sepuluh titik penyelaman yang tersebar di Banda dengan kedalaman maksimal 35 meter. Tidak perlu khawatir dengan peralatan selam karena sudah ada operator selam, yaitu Bandarin Divers, yang menyewakan peralatan selam sekaligus mengantarkan ke titik-titik selam.
Tidak heran, dengan pesona yang ada, tokoh internasional seperti Mick Jagger (vokalis Rolling Stones), mendiang Lady Diana, dan Princess of York, Sarah Ferguson, tertarik berwisata di Banda. Ditambah lagi, ratusan wisatawan mancanegara yang sering menghabiskan waktu berlibur di Banda setiap tahun.
Namun, semua panorama alam yang ada itu hanya sebagian dari pesona yang bisa memikat wisatawan datang ke Banda.
Kepulauan Banda yang berada di tengah Laut Banda menjadi tempat ”pelarian” yang sempurna dari hiruk-pikuk perkotaan. Udaranya bersih, suasananya sepi. Tidak banyak kendaraan bermotor lalu lalang di Banda. Masyarakatnya lebih memilih menggunakan sepeda atau berjalan kaki daripada dengan sepeda motor karena memang jaraknya berdekatan.
Begitu pula wisatawan yang datang. Dengan berjalan kaki, keramahan masyarakat Banda akan lebih terasa. Senyum dan sapa dari warga setiap kali berpapasan adalah hal yang biasa terjadi. Bahkan, tidak jarang, warga mengajak masuk ke rumah mereka untuk makan atau sekadar minum teh atau kopi.
Berjalan kaki sambil melihat bangunan-bangunan berarsitektur Eropa peninggalan Belanda di kiri-kanan jalan, lalu singgah di bangunan-bangunan itu yang beberapa di antaranya difungsikan warga menjadi kafe, juga akan membuat pengalaman berlibur lebih berkesan. Suasana yang ada akan membawa ke tempo dulu, sekitar abad ke-17.
Ya, Banda juga tersohor dengan bangunan-bangunan berarsitektur Eropa pada abad ke-17 yang berpilar besar di bagian depannya dan langit-langit bangunan yang tinggi.
Bangunan ini banyak terdapat di Pulau Naira. Bangunan yang dulu kebanyakan digunakan oleh pemilik kebun pala itu kini digunakan warga menjadi kafe, motel, dan tempat tinggal meski ada pula di antaranya yang dibiarkan tak berpenghuni.
Di Pulau Naira juga terdapat bangunan peninggalan Belanda yang warga sebut Istana Mini. Istana yang dibangun tahun 1622 ini pernah menjadi tempat kediaman tiga gubernur jenderal VOC yang bertugas di Banda setelah Banda ditetapkan sebagai ibu kota provinsi, yaitu disebut Government van Banda.
Arsitektur istana ini mirip dengan istana negara di Bogor yang dibangun tahun 1745 sehingga banyak yang menduga arsitektur Istana Mini menjadi contoh Istana Bogor.
Selain itu, terdapat pula lima benteng yang pernah difungsikan untuk pertahanan dan perang. Benteng-benteng ini ada yang dibuat oleh Belanda dan Inggris, ada pula yang dibuat Portugis. Kelima benteng itu adalah Benteng Holandia, Belgica, Nassau, Revenge, dan Concordia.
Namun, yang paling mengesankan sekaligus masih utuh dari semua benteng ini adalah Belgica di Pulau Naira. Benteng yang dibangun tahun 1617 oleh Pieter Both ini berbentuk persegi lima dan berada di atas bukit sehingga memungkinkan untuk melihat hampir seluruh Banda dari atasnya.
Adanya bangunan peninggalan bangsa Eropa di kawasan tersebut tak terlepas dari arti penting Banda saat itu. Banda menjadi magnet yang begitu kuat bagi bangsa Eropa karena menjadi satu-satunya daerah penghasil pala (Myristica fragrans) dan fuli atau bunga pala di dunia. Itulah rempah untuk bahan penyedap, pengawet, parfum, dan kosmetik.
Tidak hanya mencari pala, mereka pun berperang untuk menguasai Banda. Bahkan, Belanda rela menukar koloninya di Amerika, yaitu Pulau Nieuw Amsterdam atau sekarang Manhattan dengan Run, salah satu pulau di Banda yang dikuasai Inggris. Pertukaran tersebut dibuat dalam Perjanjian Breda tahun 1667.
Di Museum Budaya di Pulau Naira, barang-barang peninggalan sejumlah bangsa Eropa itu bisa dilihat. Begitu pula informasi dan lukisan yang menggambarkan perlawanan masyarakat, juga penyiksaan terhadap orang-orang Banda oleh penjajah.
Pala yang menjadi daya tarik bangsa-bangsa Eropa pada saat itu pun kini masih tumbuh subur di Banda. Pala terbanyak terdapat di Pulau Banda Besar. Wisatawan juga bisa melihat perkebunan pala yang rimbun di sana sambil minum jus pala yang banyak dijual masyarakat Banda. Saat masa panen, bulan Juli-Agustus dan November-Desember, aktivitas petani memanen pala bisa menjadi salah satu pemandangan menarik.
Satu lagi yang membuat Banda menarik adalah Banda merupakan kepingan penting sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Sebelum Indonesia merdeka, tokoh-tokoh perjuangan, Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Dr Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri, pernah diasingkan di Pulau Naira.
Bangunan tempat mereka tinggal kini dijadikan museum dengan alat peraganya berupa barang-barang yang pernah mereka gunakan selama tinggal di sana. Di bekas kediaman Hatta, misalnya, bisa terlihat meja-kursi dari kayu dan papan tulis tempat Hatta mengajar anak-anak Banda setiap sore hari.
Sejuta pesona memang ditawarkan dari Banda. Sejuta pesona yang bisa menyegarkan pikiran dan memulihkan stamina sebelum kemudian kembali lagi ke rutinitas pekerjaan. Sampai berjumpa di Banda!

Pidato Wali Nanggroe, Malik Mahmud Dalam Milad GAM ke-35

Pidato Wali Nanggroe, Malik Mahmud Dalam Milad GAM ke-35
Firman Hidayat | The Globe Journal
Minggu, 04 Desember 2011 00:00 WIB
Pidato Wali Nanggroe, Malik Mahmud ini diabadikan The Globe Journal pada perayaan Milad GAM ke-35 di Komplek Makam Tgk. Chik Ditiro Desa Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, Minggu (04/12) tadi pagi. 

Dalam proses rekaman pidato tersebut sempat terganggu dengan putusnya suara Malik Mahmud yang didengar dari sound system sebelah kiri, seyogyanya masyarakat juga sedikit mengeluh atas persiapan panitia pelaksana Milad akibat gangguan tersebut. 

Akibatnya rekaman pidato Wali Nanggroe sempat terputus-putus. The Globe Journal menyajikan pidato tersebut dalam dua bahasa. Berikut isi pidato Wali Nanggroe, Malik Mahmud; 

Assalamualaikum, Wr. Wb. 
Kaom nyak, kaom ibu Aceh yang na ditempat nyoe.

(Red- kaum perempuan dan kaum ibu Aceh di tempat ini)

Saleum serta Seulawat bak Nabi Muhammad SAW, para sahabat meunan cit saleum geutanyoe dan doa geutanyoe kepada nyang mulia Almarhum, Tgk Chik Ditiro, M. Amin nyang ta gaseh that dan Tgk Chik Muhammad Hasan Tiro sajan tanyoe di sinoe. Nyoe keuh jirat-jirat para pejuang pemimpin Aceh. 

(Salam serta Salawat pada Nabi Muhammad SAW, para sahabat begitu juga salam kita dan doa kita kepada Almarhum Tgk. Chik Ditiro, M. Amin yang sangat kita kasihi dan Muhammad Hasan Tiro bersama kita disini. Inilah kuburan-kuburan para pejuang pemimpin Aceh)
 

Malek Mahmud
 
 
Tanyoe, bak saat nyang berseujarah nyoe untuk peringati 35 thon perjuangan nyang ka di peugot dan ditinggai keu geutanyoe dan di amanah keu geutanyoe untuk ta peu terus perjuangan nyoe. 

(Kita pada saat yang bersejarah ini untuk peringati 35 tahun perjuangan yang sudah dibuat dan ditinggal untuk kita dan di amanah untuk kita untuk kita teruskan perjuangan ini)

Baroe, na keuh 100 thon uroe syahid Tgk, wali nangore tanyoe yang muda that nyang ta mulai dari 1873 sampo thon 1911 ataw 100 thon nyang ka u likot. Disinan sabee ta ingat seujarah, na ta turi soe geutanyoe, nanggroe nyoe ka tuha that teu dong, geutanyoe ka melingkeu berbagoe macam sejarah yang rayeuk, sedih, meudarah, susah, nyang ka dipeugot le endatu tanyoe, kon mantong di bumo Aceh nyoe, di Pulau Sumatera, di tanoh semenanjung Melayu, di laot seulingka Aceh, lautan Hindia, teluk Benggala, laut Cina Selatan nyang mandum bangsa Aceh. 

(Kemarin adalah 100 tahun hari syahid Tgk Wali Negara kita yang muda sekali yang kita muliakan dari 1873 sampai tahun 1911 atau 100 tahun yang lalu. Disitu selalu kita ingat pada sejarah, ada kita kenali siapa diri kita, negeri ini sudah tua sekali berdiri, kita sudah melintasi berbagai macam sejarah yang besar, sedih, berdarah, susah yang dibuat oleh orang-orang sebelum kita, bukan di bumi Aceh saja tapi juga di Pulau Sumatera, tanah semenanjung Malaya, di laut selingkar Aceh, lautan Hindia, teluk Benggala, Laut Cina Selatan yang semua bangsa Aceh)

Di loen watee loen jak sabee lon jok Al-Fatihah bak para syuhada bangsa. 

(Saya waktu setiap kesana selalu mengucapkan Al-Fatihah untuk para syuhada bangsa)

Perjuangan Aceh nyoe memang panyang that, dan geutanyoe sinoe sajan ngon lhee droe pahlawan geutanyoe saban cit yang na didaerah laen di Aceh, di seluruh Aceh ta dengoe panglima inong tanyoe, Cut Nyak Dhien, Cut nyak Mutia, rame that, panglima Aceh rame that, para syuhada leubeh rame, tetapi keadaan Aceh ka morat marit. 

(Perjuangan Aceh ini memang panjang sekali, kita disini bersama dengan tiga orang pahlawan kita dan sama juga didaerah lain di Aceh dan diseluruh Aceh kita dengar Panglima perempuan seperti Cut Nyak Dhien, Cut Mutia. Banyak sekali panglima Aceh, para syuhada lebih banyak lagi, tetapi keadaan Aceh sudah morat marit.)

Payah ta ingat sabee geutanyoe adalah pewaris perjuangan nyang suci nyang ka geu peu tron oleh pemimpin tanyoe. Tetapi peu nyang keu di perjuangkan diluar pikiran geutanyoe mandum nyan bek tuwoe. [Kemudian suara sound system mulai terputus - Red]

(Harus kita ingat selalu pewaris perjuangan yang suci yang sudah diturunkan oleh pemimpin kita. Tetapi apa yang diperjuangkan diluar pikiran kita semua, itu jangan lupa, ...)

Tetapi hasil dari perdamaian, MoU Helsinki, wali roh sajan, lam mata dunia, akhe jih tak peugot perdamaian dengan butir kesepakatan yang terang that di ateuh meja, troh Uni Eropa, Asia, PBB dan laen. Nyan saboh hasil perjuangan ureueng Aceh nyang rayeuk that nyang payah ta jaga.

(Tetapi hasil perdamaian, MoU Helsinki, wali ikut serta, dalam mata dunia, akhirnya kita buat perdamaian dengan butir kesepakatan yang terang sekali diatas meja, sampai Uni Eropa, Asia, PBB dan lainnya. Satu hasil perjuangan orang Aceh yang besar sekali yang harus kita jaga)

Meunyoe bak kayee ta jaga, meu sioun na ulat-ulat payah tak boh bek sampo kayee nyan matee, nyoe nyang perleu lam pikiran geutanyoe dalam hatee geutanyoe.

(Kalau pohon kayu kita jaga, satu daun ada ulat-ulat harus kita buang jangan sampai kayu itu mati, ini yang perlu dalam pikiran kita dalam hati kita)

Peu nyang ta peugot buet bek tuwoe seujarah teuh,  dan seujarah nyoe endatu geutanyoe ka dipeugot. Di loen lahee di Singapura, pakon loen uroe nyoe di sinoe, loen tinggaikan Singapura, pakon? Ta geusambong perjuangan endatu teuh, ta sambong peu nyang geu pesan, geu peurunoe geutanyoe, geu amanah keu geutanyoe, padum droe yang korban, dihina, diperkosa, sampo an jinoe goh na saboh penyelesaian, nyan mandum korban syahed, peu lom ureung inong sampao tamong lam liang lahat, nyan korban paling rayeuk.

(Apa yang kita buat jangan sampai lupa sejarah, dan sejarah ini orang-orang sebelum kita sudah buat. Saya lahir di Singapura, kenapa saya hari ini ada disini, saya tinggalkan Singapura, kenapa? Kita sambung perjuangan orang-orang sebelum kita. Kita sambung apa yang sudah dipesan. Diajarkan kita, diamanahkan ke kita, berapa orang korban, dihina, diperkosa, sampai sekarang belum ada satu penyelesaian. Ini semua korban syahid, apalagi orang perempuan sampai masuk kuburan, itu korban paling besar.)

Apakah korban nyan untuk peusenang droe, mita peng, peukaya droe, kon syehdara-syehdara.  Korban nyan untuk Aceh, untuk bangsa Aceh, kemuliaan bangsa tanyoe, nanggroe tanyoe nyang ka di tinggai oleh endatu tanyoe, nyoe payah ta pikee, beuna sabee pikiran nyan, buet Aceh nyoe MoU Helsinki nyang ka tercapai, padum ribee inong balee, padum ribee aneuk yatim, peu na keumah geutanyoe jok santunan keu awak nyan, di loen sabee lon pikee nyan.

(Apakah korban itu untuk senang-senang diri, cari uang, kasih kaya diri, bukan saudara-saudara, Korban itu untuk Aceh, untuk bangsa Aceh, kemuliaan bangsa kita, negeri kita yang sudah ditinggalkan oleh orang-orang sebelum kita, ini harus kita pikir, selalu ada pikiran itu, di Aceh MoU Helsinki sudah tercapai, berapa ribu perempuan yang janda, berapa ribu anak yatim, apakah kita sanggup kasih santunan untuk orang-orang itu, saya selalu harus pikir itu)

Padahai kaleuh ta teken nyan, menyoe na beutoi ta peu jak buet  lagi MoU atawa UU PA dalam limong thon ta mulai jeut ta dalami peu masalah masyarakat, tapi kon lagee nyan. 

(Padahal sudah kita tanda tangani itu, kalau ada yang betul kita kerjakan lagi MoU atau UU PA dalam lima tahun kita mulai bisa dalami apa masalah masyarakat, tapi bukan seperti itu.)

Pikiran ka meu laen, mita pangkat, mita peng. Peng nyan ata seupo, geutanyoe poe, walaupun teuka dari Jakarta dalam APBN atawa APBA, peng geutanyoe ureung Aceh nyan ka di jok keu Pemerintah Aceh supaya di peugot program yang got untuk membangun Aceh, sosial ekonomi dan laen-laen.

(Pikiran sudah lain, cari pangkat, cari uang, dan uang itu punya siapa? Kita punya walaupun datang dari Jakarta dalam bentuk APBN atau APBA, uang kita orang Aceh yang sudah diberikan melalui Pemerintah Aceh supaya dibuat program-program yang baik membangun Aceh, sosial, ekonomi dan lain-lain)

Geutanyoe han ta peu buet, ureueng Aceh payah mumphom mandum, pakon lagee nyoe, malahan peu kejadian dalam limong thon nyoe peu nyan ta harap hasil MoU dan UU PA na perkara nyang payah ta atoe dalam perundang-undangan, Aceh laen ngon daerah laen.

(Red- kita tidak lakukan, orang harus mengerti semua, kenapa seperti ini? Malahan apa kejadian dalam lima tahun ini, apa yang kita harap hasil MoU dan UU PA ada perkara yang harus kita atur dalam perundang-undangan. Aceh lain dengan daerah lain)

Tanyoe na undang-undang droe di Aceh. peu ta peugot harus ta peugot ata laen na qanon tapi nyoe hana di peugot, padum ploh qanun yang ka dipeugot, bek ta peusalah MOU dan UU PA hana beutoi, kon 100 persen beutoi, payah ta peu beutoi, peu nyan ka ta meuteumee hana ta peugot pakon ? Laloe ngon kekuasaan dan kekayaan. 

(Kita ada undang-undang sendiri di Aceh, apa yang kita buat punya lain ada qanun tapi tidak dibuat, berapa puluh qanun yang sudah dibuat? Jangan kita salahkan MoU atau UU PA yang tidak betul, bukan 100 persen betul, harus kita betulkan, apalagi sudah kita dapatkan tidak kita buat, kenapa ? Lalai dengan kekuasaan dan kekayaan.)

Ureueng di peugah nyoe GAM atau PA nyang salah, jinoe syehdara meutuah ta cok saboh peunutoh bak buleun peut untuk ta pileh calon gubernur dan waki gubernur, calon bupati dan waki bupati dan calon walikota dan waki walikota ka ta seleksi ureung nyan dari kalangan  geutanyoe nyang beutoi. 

(Orang bilang ini salah GAM atau Parta Aceh, sekarang saudara sekalian, kita ambil satu keputusan pada bulan empat untuk memilih Calon Gubernur dan Wakil Gubernur, Calon Bupati danWakil Bupati dan Calon Walikota atau Wakil Walikota sudah diseleksi dari kalangan yang betul)

Ureung nyang peureuloh ta peuduk di bineh, nyoe keuh.  [disambut tepuk tangan dari masyarakat Aceh - Red]. 

(Orang yang merusak kita dudukkan disamping, inilah ....)

Geutanyoe ka ta teupe toh nyang ureung beutoi berjuang untuk memenuhi kemerdekaan atau MoU Helsinki nyan dan toh ureung nyang peureuloh. [Disambut tepuk tangan lagi - Red].

(Kita sudah tahu mana orang yang betul-betul berjuang untuk memenuhi kemerdekaan atau MoU Heksinki itu dan mana orang yang merusak ..... )

Dan pikiran nyoe, pendirian nyoe payah ta persipreuk bak sigom donya di Aceh, bek tanyoe ka na keumenangan tapi oleh padum droe ureung jie pengeut tanyoe dan tanyoe akan hancoe. 

(Dan pikiran ini, pendirian ini, harus kita sebar luaskan diseluruh Aceh, jangan kita sudah mendapat kemenangan tapi oleh beberapa orang di tipu kita dan kita akan hancur)

Lagee peu nyang ka kejadian jinoe, sejarah Aceh kemungkinan me-ulang cit, karena tanyoe sabee tuwoe bak seujarah geutanyoe. 

(Seperti apa yang sudah terjadi sekarang, sejarah Aceh kemungkinan terulang kembali kalau kita selalu lupa pada sejarah)

Aceh hana mungken di goek-goek lee gob, peulom dikuasai lee gob, dipeugah peu nyang meuheut jih menyoe ureung Aceh meusaboh. Lage tanyoe uroe nyoe.

(Aceh tidak mungkin di goyang oleh orang lain, apalagi dikuasai oleh orang lain, dibilang apa yang suka dia, kalau orang Aceh bersatu, seperti kita hari ini.) 

Tapi menyoe tanyoe pecah belah, hana ta turi soe peugot lagee nyan rouh ta dengoe dengan propaganda, peng segala macam nyan, Aceh akan keumah gob di koh dan nyoe ka terjadi lam padum buleun nyoe. Bek loen peugah panyang that.

(Tapi kalau kita pecah belah, tidak saling kenal siapa yang buat begini kita dengar propaganda, uang segala macam, Aceh akan siap diambil orang dan ini sudah terjadi dalam beberapa bulan ini. Saya tidak ingin banyak bicara.)

Jinoe peu ka kejadian di Aceh ka di goek-goek lee gob, ureung nyan hana seunang u Aceh  di cok kesempatan untuk peureuloh dan peu hancoe geutanyoe. Nyoe ka terjadi.

(Sekarang apa yang terjadi di Aceh sudah digoyang orang lain, orang yang tidak senang Aceh diambil kesempatan untuk hancurkan kita, ini sudah terjadi)

Dan mandum pimpinan dalam PA sabee jak u Jakarta sabee ta peugah kon lagee nyan, gob laen reuloh, tanyoe payah ta ingat sabee, menyoe hana ta turi keumah di peunguet tanyoe.

(Dan semua pimpinan PA selalu pergi ke Jakarta, selalu kita sampaikan bukan seperti itu, orang lain merusak, harus kita ingatkan selalu, kalau tidak saling kenal maka kita siap ditipu lagi) 

Syehdara meutuah, jagalah kepentingan Aceh, lam Bahasa Inggris “The Interest of the land”, kepentingan bangsa nyan dan payah dijaga, dipeuthen, dirawat, meunyoe soe na gugat nyan payah ta tentang sampo geutanyoe reubah, matee geutanyoe nyan wajeb. Disambut tepuk tangan masyarakat. 

(Saudara sekalian, jagalah kepentingan Aceh, dalam Bahasa Inggris, “The Interest of the land” kepentingan bangsa itu dan harus dijaga, dipertahankan, dirawat, kalau siapa yang gugat itu harus kita tentang sampai kita jatuh, sampai kita meninggal itu wajib.)  

Pakon pikiran lagee nyan? Jinoe geutanyoe bangsa Aceh harus muphom geuntanyoe bangsa rayeuk. Umue Aceh saban ngon England, Prancis, Swedia, Rusia, Spanyol, Portugis malah tanyoe lebeuh tuha bak awak nyan. Nyan saboh kelebihan nyang na bak Aceh dan nyang diberi Allah SWT, harus ta syukuri dan jaga ngon darah geutanyoe. 

(Kenapa pikiran seperti itu? Sekarang kita bangsa Aceh harus paham bahwa kita bangsa besar, usia Aceh sama seperti Inggris, Prancis, Swedia, Rusia, Spanyol, Portugis, malah kita lebih tua dari negara-negara itu. ini satu kelebihan yang ada di Aceh dan yang diberikan oleh Allah SWT, harus di syukuri dan jaga dengan darah kita.)

Bak uroe nyoe ta ikrar teuma geutanyoe ta seutot keunebah endatu tanyoe, tanyoe bangsa rayeuk, neumpeuna bak geutanyoe, hasee bumoe segala macam, ureung Aceh, ureung carong, cuma dipeugah ureung bangai, nyoe tanyoe payah ta siumekee dengan jeureuneh bek sampoe geutanyoe di peunget. 

(Pada hari ini kita ikrar lagi, kita ikut warisan nenek moyang kita, kita bangsa besar, semua ada pada kita, hasil bumi segala macam, orang Aceh orang pandai, cuma dibilang orang bodoh, ini harus kita berfikir dengan jernih jangan sampai kita ditipu)

Watee zameun Iskandar Muda nyan keuh puncak Aceh di theu bak seluruh donya, kawasan laot geutanyoe kuasa, didarat dan dilaut dalam wilayah Aceh, tetapi pakon geutanyoe tron, sebab jih, ureung Aceh hana di dengoe lee keuneubah endatu beuno, tanyoe lalee ngon kekuasaaan dan kekayaan droe dan kelompok. 

(Waktu zaman Iskandar Muda itulah puncak Aceh dikenal oleh seluruh dunia, kawasan laut kita kuasai, didarat dan dilaut dalam wilayah Aceh, tetapi kenapa kita turun, sebab karena orang Aceh tidak dengar lagi warisan nenek moyang tadi, kita lalai dengan kekuasaan dan kekayaan diri dan kelompok.)

Tanyoe nanggroe rayeuk yang diakui lee dunia, saboh watee, belanda kirem Vanwestern dilakee izin kalon ureung Aceh. hana le geumat keuneubah endatu, jadi belanda ka di kalon keumah dengan nyan dipeugot kebijakan di blokir pante Aceh, kapai dari luar nyan dihadang, nyan hana kuasa sultan disinan, akibat jih tanyoe leumoh, meupakee sabee keu droe, raja ka kureung belanja, nyan keuh leumoh Aceh maka Aceh dipeugot saboh seurangan. 

(Red- Negeri kita besar yang diakui dunia, satu waktu Belanda kirim Van Western minta izin lihat orang Aceh, tidak pegang lagi “Keuneubah Endatu” jadi Belanda sudah lihat dan siap dengan kebijakan diblokir pantai Aceh, kapal dari luar dihadang, tidak ada kuasa Sultan waktu itu, akibatnya kita lemah, berkelahi sendiri, Raja sudah kurang uang, inilah lemah Aceh maka Aceh dibuat suatu serangan)

Kohler ka taloe, tapi Vanwestern diangkat sebagai ekpedisi kedua, maka nyan terjadi prang kedua, sampo thon 1911 nyan ka dan berlanjut sehingga perang dunia kedua. 

(Red- Kohler sudah kalah, tapi Van Western diangkat ekpedisi kedua, maka itu terjadi perang kedua sampai tahun 1911, berlanjut hingga perang dunia kedua)

Disinan diwatee nyan jepang kajeut kuasa daerah dan mendarat di Aceh, diwatee Jepang mendarat prang lom ngon ureueng Aceh, aleuh nyan seluruh daerah Indonesia. Belanda dibantu tentara Inggris ka mendarat di Indonesia. Sound system terputus ...

(Red- Disitu, diwaktu itu Jepang sudah berkuasa dan mendarat di Aceh, waktu Jepang mendarat perang lagi dengan orang Aceh, setelah itu seluruh Indonesia, Belanda diantu tentara Inggris sudah mendarat di Indonesia ..)

Aceh bantu berdirinya Negara Indonesia, dan bendera merah putih hantom tron di bumo Aceh, nyan modal Indonesia, modal untuk peudong berdirinya Indonesia, ureung Aceh, tentra geutanyoe nyang peutheun, nyan tentra Aceh di tron didaerah Langkat Sumatera nyan, Polonia dikuasai tentra Aceh.  

(Aceh bantu berdirinya Negara Indonesia, dan bendera merah putih tidak pernah turun di bumi Aceh, itu modal Indonesia, modal untuk berdirinya Indonesia, orang Aceh, tentara Aceh kita yang pertahankan, itu tentara Aceh turun di Langkat Sumatera Utara, Polonia sempat dikuasai tentara Aceh)

Di Indonesia mantong na perlawanan, na bendera merah puteh tegak, na radio rimba raya menggaung, untuk peu euk seumangat perjuangan seluruh Indonesia, jadi di PBB dipeugot saboh peninjau di Indonesia tron awak PBB dari sinan kalon keadaan di Aceh, bendera merah puteh mantong na, tentra tanyoe kuasa, di Blang Padang. Loen na pernah kalon gamba nyan. Nyan tentra Aceh ateuh nan Indonesia. 

(Red- Di Indonesia masih ada perlawanan, ada bendera merah putih tegak berdiri, ada radio rimba raya menggaung, untuk kasih semangat perjuangan seluruh Indonesia. Jadi PBB dibuat satu pemantau di Indonesia turun orang PBB dari situ pantau keadaan Aceh, bendera merah putih masih berkibar, tentara yang berkuasa di Blang Padang. Saya pernah lihat gambarnya, itu tentara Aceh atas nama Indonesia)
 
Dan nyang saboh bagian bagi politik Indonesia bahwa Indonesia goh lom rot karena Aceh adalah modal geutanyoe, cuma sayang thon 1949 kedaulatan Indonesia ka di jok hasee meja bundar di Deng Hagg na perudingan, di jok kedaulatan Indonesia termasuk Aceh, ka rouh dalam nyan ka jeut cit, Aceh adalah satu daerah yang istimewa. 

(Red- dan yang satu bagian bagi Politik Indonesia belum jatuh karena Aceh adalah modal kita, Cuma sayang tahun 1949 kedaulatan Indonesia sudah dikasih hasil meja bundar di Den Hagg ada perundingan, dikasih kedaulatan Indonesia termasuk Aceh, sudah masuk dalam itu sudah boleh juga, Aceh adalah satu daerah yang istimewa)

Watee nyan dipeugot kebijakan Aceh saboh ngon Provinsi Sumatera Timur berpusat di Medan. Dalam nanggroe geutanyoe keu droe gadoh kuasa, mandum perkara di Medan,  dan merasa dikhianati akibat timbulnya pemberontakan DI-TII dari 1953 berakhir 1961 nyan ka padum korban lebih kuereung 10.000. 

(Waktu dibuat kebijakan Aceh, satu dengan Provinsi Sumatera Timur berpusat di Medan, dalam negeri kita sendiri sudah hilang kuasa, semua perkara dibawa ke Medan. Dan merasa dikhianati akibat timbulnya pemberontakan DI-TII dari 1953 sampai 1961 itu sudah jatuh korbang lebih kurang 10,000 jiwa. )

Dengoen pemberontak nyan, ka na ta dengoe kesepakatan Lamteh, disinan Aceh ka dipulangi kelai Provinsi Daerah Istimewa Aceh, masalah budaya, agama, pendidikan, tapi hana implementasi. Watee nyan. Watee rot Sukarno, dan euk Suharto diwatee nyan meurumpok gas yang paling rayeuk di dunia, padahai kesempatan nyan harus diperhatikan keu ureueng Aceh, beri pekerjaan ke ureueng Aceh, tapi hana, nyan di peujak laju dan dipeugot but ngon ureueng luwa Aceh, menyoe ureueng Aceh kerja dilakee sertifikat, seharusnya dijok keu ureueng Aceh. 

(Red- dengan pemberontakan ini, pernah kita dengar kesepakatan Lamteh, disitu Aceh sudah dipulangi lagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh, masalah budaya, agama dan pendidikan tapi tidak ada pelaksanaanya. Waktu itu, waktu jatuh Sukarnoe dan naik Suharto jadi Presiden RI, waktu itu jumpa gas yang paling besar di dunia, padahal kesempatan itulah harus diperhatikan orang Aceh, berikan pekerjaan ke orang Aceh, tapi itu tidak, itu dikerjakan terus dan dibuat dengan orang luar Aceh, kalau orang Aceh kerja di minta sertifikat, seharusnya diberikan kepada orang Aceh.)

Menyoe hana sertifikat jeut di peu sikula ureueng Aceh ataw di training, pakon hana dipeugot kebijakan watee nyan. Nyang mat mandum awak luwa, nyan alasan mantong, pembagian gas alam nyan pih tan, padum hak untuk Aceh, padum hak untuk Pusat, hana ta teupeu, meuribee kapai ka di cok, hana ta teupeu troh jinoe, nyoe perkara nyang ka kejadian di nanggroe Aceh dan nyan ka geutanyoe keu droe rasa.

(Red- kalau tidak ada sertifikat bisa di sekolahkan orang Aceh, dilakukan pelatihan, kenapa kebijakan itu tidak dibuat? Yang pegang kendali orang luar semua, itu alasan saja, pembagian gas alam itu pun tidak ada, berapa hak untuk Aceh dan berapa hak untuk pusat, kita tidak tahu, ribuan kapal sudah ambil gas itu, tidak tahu lagi sekarang, perkara ini terjadi di Negeri Aceh dan itu sudah kita rasakan)

Aleuh na kejadian lagee nyan, oleh almarhum Muhammad Hasan Tiro, geutanyoe ta lakee merdeka karena  ka dipeunget tanyoe dua goe, peugot GAM, dengan 30 thon ta meu prang, meuploh ribee korban ureung Aceh.  

(Red- setelah kejadian itu, oleh Almarhum Muhammad Hasan Tiro, kita minta merdeka, karena sudah ditipu dua kali, buat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan 30 tahun kita berperang, puluhan ribu korban sudah berjatuhan.)

Kaleuh buet dengan izin Allah, watee na SBY dan Jusuf kala, untuk menyelesaikan masalah Aceh ta adakan perundingan nyang bermartabat kedua belah pihak, phoen that di Jenewa thon 2000 watee nyan ngon Hasan Wirajuda, utusan Indonesia. 

(Red- dengan Izin Allah, waktu ada SBY dan Jusuf Kala untuk menyelesaikan masalah Aceh kita adakan perundingan yang bermartabat kedua belah pihak, pertama di Jenewa tahun 2000 waktu dengan Hasan Wirajuda utusan Indonesia)

Lalu na jeda kemanusian, tetapi di peureuloh, akhee puncak 2002 kamo payah jak u nanggroe Jepang untuk menyelamatkan peu nyang ka na, tapi na darurat militer, aleuh buet, dengan ke hendak Allah, Aceh dilanda tsunami maka Aceh teuhah keu ureung lua di dunia.

(Red- lalu ada jeda kemanusian, tetapi di rusak, akhirnya puncak 2002 kami harus pergi ke Jepang untuk selamatkan apa yang ada, tapi ada darurat militer, setelah itu dengan kehendak Allah, Aceh dilanda tsunami, maka Aceh terbuka untuk orang luar di seluruh dunia)

Dalam menghadapi dua malapetaka, prang dan tsunami dalam seujarah dunia nyoe dalam catatan ureung Aceh sikap sabar sebagai bangsa Aceh. Sebagai uerueng Aceh ka leuh ta peulemah sebagai bangsa rayeuk dan berani menghadapi segala malapetaka. 

(Red- dalam menghadapi dua malapetaka ini, perang dan tsunami dalam sejarah dunia ini dalam catatan orang Aceh sikap sabar sebagai bangsa Aceh, sebagai orang Aceh sudah kita perlihatkan sebagai bangsa besar dan berani menghadapi segala malapetaka)

Nyan kelebihan geutanyoe bangsa Aceh, nyan darah tanyoe, seumangat pahlawan, carong sebagai saboh bangsa rayeuk nyang ka dipeugot endatu tanyoe, nyan bek tuwoe sagai. Bek na ureueng laen di peu tuwoe, nyoe masalah Aceh tergantung pada sikap geutanyoe uroe nyoe dan seterusnya.

(Red- itu kelebihan kita bangsa Aceh, itu darah kita, semangat pahlawan, pandai sebagai satu bangsa besar yang sudah dibuat orang sebelum kita, itu jangan lupa sama sekali, jangan ada orang yang lupakan, ini masalah Aceh tergantung pada sikap kita hari ini dan seterusnya)

Kaleuh ta peugot perjanjian nyang jroh that MOU Hensinki, sound system rusak ...
(Red- sudah kita buat perjanjian yang mantap MoU Helsinki .....)

Perkara pokok persolan sabee ngon Pusat, karu nyan keuh masalah politik, dengon na MOU Helsinki sebagian rayeuk ka dipulang bak geutanyoe hana peureuleu ta prang, nyan mantong harus dihormati. 

(Red- perkara yang pokok sering bermasalah dengan pusat adalah masalah Politik. Dengan MoU Helsinki sebagian besar sudah dikasih ke kita dan tidak perlu perang lagi,itu saja harus di hormati)

Peu nyang ta peugot untuk Aceh padahal untuk Pusat cit, nyang penting sikap ureung Aceh, peu sikap geutanyoe, pakai langkah saboh hatee, saboh jiwa, menyoe peureuleu reubah akan ta reubah cit sabee-sabee geutanyoe.

(Red- apa yang kita buat untuk Aceh padahal untuk pusat juga, yang penting sikap orang Aceh, apa sikap kita, pakai langkah satu hati, satu jiwa, kalau perlu jatuh akan kita jatuh bersama-sama)

Nyan keu mantong, karena peu mantong nyan ta peugot, ubit rayeuk mandum buet seujarah, dan untuk ta jaga kepentingan ureung Aceh, masa jinoe, masa ukeeu, dan ta peugot untuk Aceh maka akan ta peugot untuk Indonesia cit. 
(Red- inilah saja, karena apa saja yang kita buat, kecil dan besar semua dibuat sejarah, dan untuk kita jaga kepentingan orang Aceh, masa sekarang dan masa depan dan kita buat Aceh dan kita buat untuk Indonesia juga)

Teurimoeng geunaseh beu mandum ...
(Red- terima kasih untuk semua)

Wassalamualaikum Wr. Wb.

ALMHM WALI

Hasan Tiro, Rèvolusioner Politék Atjèh

RAKAN, peuëkeuh mantong teuingat teuh lé gata tjaè njoë: ‘Ana lusyen, lusyen ‘Arabi, ‘Arabiyè, ‘Arabi Sumatra, Sumatrani, Sumatra Meurdéhka.’ Njang béasa gata kheun lam uteuën, lam lampôh pineung, lam lampoh geutah, lam lampoh kiroë, ngòn bak bin`eh kruëng.
Tapi njan djameuën. Wateè golom ram`e-ram`e tatren nibak gunông, atè beudé-beudé gohlom djikoh meukhan-khan. Atè tabék beundéra mirah putéh mantòng pantang. Tapi djinoë ata njan bandum ka djeuët keu seudjarah, njan pih sang golom na soë tuleh lam buku. Lageè éndatu kheun, “Pat udjeuën han piram, pat prang han reuda”.
Rèvolusi politék di Aceh mulai ngòn peunjata reuntjana peudòng keulai kesultanan Atjèh njang meudèëlat, nakeuh bak 4 Dèsèmber 1976. Meusaweuëb rèvolusi njoë djipeulahékeuh DOM (Daèrah Operasi Militè) le Prèsiden Republik Indônèsia Suharto, bak thôn 1990-an, meuribèë rakjat Atjèh abéh umu gara-gara njan.
Lheuëh Suharto djipeutren lé mahasiswa bak 1998, rèvolusi politék di Aceh djibeudòh keulai leubeh teuga. Angkatan prang njang ikôt Hasan Tiro makén le geulatih. Beureutoh prang meubura-bura lom. Thon 1999, rakjat Atjèh tuntut rèfèrèndum dengan Indônèsia. Hana asè buët njan, saweuëb antara di dalam Atjèh ngon di luwa hana sapuë kheuën. Padahai njan keuh momèn raja lam seudjarah. Adak keuh njoë beudjeuët keu peuingat aneuk bansa uroë singoh.
Thôn 2000 beureutôh prang raja di Atjeh. Angkatan prang njang ikôt Hasan Tiro makén meutamah le lom geulatih. Bak 2003 djipeusah Atjèh lam Darurat Militèr le Presidèn Republik Indônèsia Megawati Sukarno Putri. Prang raja teujadi sampoë 15 Agustus 2005, bak uoë njan teudjadi peristiwa meuseudjarah raja tèkèn djandji damèë di Hèlsinki, Finlandia, antara GAM-RI.
Njan bandum nakeuh bung`ong nibak rèvolusi politék njang geupeugot lé Hasan Tiro. Bandum njan djinoë ka djeuët keu seudjarah. Hasan Tiro, nakeuh ureuëng njang publeuët mata ureuëng Atjèh lam bideuëng meunumat udép politék. Droeneuh njan sidoë rèvolusionir politék di Atjèh njang raja that peungarôh nibak akhé abad 20 M sampoë awai abad 21 M.
Hasan Tiro ureuëng njang fènom`enal, legendaris, djipidjoë ngòn djitjatji, jigaséh ngòn djibeuntji jôh mantong udép neuh atawa atè ka lheuëh neuwoë bak poteuh Allah. Njang dukông ngòn njang lawan sadum le. Droëneuh njan lahé di Tiro, Pidië bak uroë buleuën 25 September 1925 dan neuwoë bak poteuh Allah di Bandar Atjèh Darussalam, bak 3 Juni 2010, had umu 85 thôn. Hasan Tiro ureuëng njang peunjata keulai Atjèh Meurdéhka bak 4 Dèsèmber 1976.
“Bèk na ureuëng njang ék peus`ew`e gata.” –Hasan Tiro
Njan nakeuh seumpeuna nibak Hasan Tiro njang meutuleh lam buku-buku Atjeh di markas-markas geurilja seugolom GAM-RI meudamèë bak 15 Agustus 2005. Atè njan Hasan Tiro béasa geukheun ‘Wali Neugara.’
Lam rika njoë han lôn peutrang riwayat udép Hasan Tiro, njan bah urôsan ahli seujarah, lom pih Hasan Tiro ka lheuëh neutuléh keudroëneuh ladôm riwayat udép neuh lam seunalén ‘Jum Meurdéhka.’ Lam rika njoë, han lôn peugah peukara idèologi politék, tapi teuntang peungarôh Hasan Tiro ròt keunalon tjeureumèn seujarah ngòn asé `eleum`eë njang droeneuh njan meurunoë.
Peungarôh Hasan Tiro lam politék di Atjèh djai that. Sajang, Hasan Tiro tan neukeubah geunantoë njang sadum bakò ngon droëneuh njan. Njan kòn salah droëneh njan, tapi salah ureuëng Atjèh tan geutém meurunoë. Beh panè mungkén geupeutaktèh ban siumu masa.
Jinoë takalon, lam peukara èkonomi, manfa’at le sit djitjok lé ureuëng njang na lam kawan njang beuntji droëneuh nyan, puëkeuh jithè atawa tan. Meunan sit, manfa’at kadang hana djirasa lé ureuëng njang seutot rauëh éndatu. Njan bandum teujadi saweuëb ureuëng njang peudjak hukôm lam nanggroë di Atjèh njoë djinoë han sép `eleum`eë lam meumimpin, bahpih pangkat dum raja-raja, tapi hana peunutôh bak mat gajam nanggroë.
Meunan sit lam peukara peuradaban, seudjarah, golom jipakoë le peumimpin njang ka djipiléh lé rakjat. Meunjoë djinoë, lé peumimpin di Atjèh njang ikôt Hasan Tiro tan gòt geupapah ban ureuëng di lingka geuh lam peumeurintahan, maka peumeurintahan Atjèh keunak jimat lé peureuté meuwòt lam bruëk ruhung, peureuté guda padjôh lhòk, peureuté kamèng kap situëk, njang ate lam meudjuang dilèë hana meumupat dijih pih, mungkén sit seubagoë lawan dilèë.
Titel akademik han puë that tajak peutjaja; njan peudjabat di Atjèh atawa di Indônèsia le njang lulusan akademik, tapi korupsi mantòng na, neugara tan maju, rakjat tan makmu. Peukara njang mustahak peureulè lam buët pimpin rakjat nakeuh akheulak atawa moral, kòn peukara disiplin `eleum`eë lam universitas.
Perguruan tinggi tan jiproduksi peumimpin atawa ureuëng bakò ngòn gòt akheulak, tapi djiproduksi ureuëng tjaròng. Untôk djeuët keu peumimpin, han meumada ngòn tjaròng sagai, tapi beuna iman keu poteuh Allah, beuna gaséh sajang keu rakjat, beuna akheulak.
“Tapiléh keu (ureuëng peunasèhat ngòn njang bantu –red) peumimpin, meusti ureuëng njang keubit taturi, han djeuët soë njang meurumpok bak meuraba-raba lam seupôt.” – Hasan Tiro.
Mungkén, Hasan Tiro geum`oë lam kubu geukalon peukateuën ureuëng geutanjoë aneuk bansa njang mantòng udép djinoe. Bek ilèë keu seudjarah èndatu, meukeu uroë lahé droëneuh njan sang tan lé teuingat teuh lé geutanjoë. Kiban geutanjoë sah tapeudjak buët meunjoë keu po buët tan teuingat teuh. Alah, hôm hai nanggroë nyoë.
Neubri ya Poe teuh Allah, beu ék keuh peumimpin kamoë geupubuë lagèë Hasan Tiro wasiët, bèk na njang ék peus`ew`e peumimpin kamoë. Amin! Kamoë rakjat Atjèh meuharap, ‘ulama beugeudòng bak geunaréh droëgeuh sebagoë waréh nabi bak geupimpin umat, beugeubi nasèhat keu peumpimpin politék. Politék bah buët politisi ngòn dukông ‘ulama, agama bah buët ‘ulama.
Ulama ngòn umara beugeudjak meudjandréng ban masa dilèë saboh djan atè radja diradja mantòng na, atè marwah Atjèh rajek di mata dônja. Ban lam hadih Nabi, “Al-Islamu ka aljasadi wahid.” Ban wasiët éndatu, “Bak duëk bak dòng sapuë pakat, sang sineusab meuadoë-a.”
Sajang Atjèh, wahé peumimpin kamoë neupeuseulamat seudjarah ngon hasé peradaban ngòn budaja Atjèh puë njang mantòng tinggai, atèë ka hana lé han mungken tapeugisa.
Aleuë meunasah geuikat ngòn awé lilén, ata njang ka na beugòt tapapah, leumpah pajah bak tamita laén. []

Thayeb Sulaiman
Aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT)

DOTO ZAINI

Zaini : Titik Center Ekonomi Aceh Terletak di Provinsi bukan di Kabupaten Kota
Afifuddin Acal | The Globe Journal
Senin, 22 Oktober 2012 18:36 WIB
Banda Aceh - Gubernur Aceh Zaini Abdullah meminta seluruh kabupaten/kota tidak mengurus dana Dekosentrasi dan Tugas Pembantuan (DTP) sendiri-sendiri ke Jakarta. Karena Aceh merupakan otonomi khusus.
"Berdasarkan UUPA, titik center otonomi Aceh terletak di Provinsi, bukan di kabupaten kota," ungkap Gubernur Aceh Zaini Abdullah, pada acara rapat kerja bersama seluruh bupati/wali Kota seluruh Aceh Senin (22/10) di gedung serba guna Kantor Gubernur Aceh.
Oleh sebab itu, setiap kabupaten/kota harus berkoordinasi dengan provinsi dalam pengurusan dana tersebut. Aceh tidak sama dengan provinsi lain. Semua aspirasinya harus disalurkan melalui Pemerintah Aceh yakni ke provinsi.
"Jangan sampai kita merusak apa yang telah didapatkan saat ini," kata Zaini.
Ia mengakui kelemahan dari Pemerintah Aceh sendiri yang kurang melakukan sosialisasi. Oleh karenanya Pemerintah Aceh akan terus berusaha untuk memberikan pemahaman pada seluruh kabupaten/kota bahwa otonomi Aceh bukan terpusat pada Jakarta, tetapi pada provinsi.
"Tahun 2013 kita akan usahakan semua akan terpusat ke provinsi,"ujarnya lagi.
Oleh sebab itu, kata Zaini, ini butuh dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan cita-cita yang sesuai dengan MoU Helsinki. Harapannya dengan terpusatnya otonomi ke provinsi, semua pembangunan di Aceh akan terus berkembang.